Fotografi

Cara Mudah Agar Motret Selalu Terang dengan Shutter Speed Priority

Awal mula foto-foto dengan DSLR saya selalu menggunakan Manual Mode. Lokasi pemotretan yang saya ambil adalah museum dan kebon binatang.

Akan tetapi ada satu kerempongan yang saya hadapi, yaitu untuk mendapatkan terang foto yang ideal, kerap kali saya harus mengubah besaran Shutter Speed, Aperture dan ISO.

Lemur Ekor Cincin – “Duh pusing pala berbie”

Hal itu dikarenakan kondisi cahaya di lokasi berubah-ubah, misalnya saat di bonbin, di kandang A banyak pohon ridang di sekitarnya sehingga cahayanya kurang, namun saat berada di kandang B, tidak ada pohon sama sekali, dan cahayanya jadi banyak.

Sitatungga

Sitatungga – “Senyum ah mau difoto”

Untuk mengatasi hal ini Anda bisa memanfaatkan fitur Shutter Speed Priority Mode. Anda cukup memutar dial kamera dan mengarahkan huruf ‘S’ ke garis putih, seperti yang dicontohkan pada gambar.shutter priority aperture priority

Selanjutnya Anda tentukan lama bukaan diafragma (Shutter Speed) yang Anda perlukan. Nanti besaran Aperture dan ISO akan diatur oleh kamera itu sendiri agar gambar tetap terang ideal.

Kini Anda tinggal jepret sana, jepret sini deh.

Oh ya BTW, untuk menghasilkan gambar foto yang baik, biasanya orang masih mengeditnya. Foto di atas saya simpan dalam bentuk RAW, diedit sedikit, baru diekspor ke JPG.

Info tambahan: Di Shutter Speed Priority Mode, Anda bisa memilih apakah besaran ISO mau konstan atau bergerak secara auto dengan batas ISO tertentu.Pengaturan ini terletak di menu.

Catatan: Shutter Speed Mode tidak selalu cocok dalam segala situasi, misalnya kalau Anda ingin menciptakan efek bokeh.

Ok, semoga dengan artikel singkat ini Anda dapat memotret dengan lebih baik.

2 Juni, 2016 / by / in
3 Kegunaan Auto Focus dan Manual Focus pada Kamera

Pada kamera DSLR, fokus lensa bisa dilakukan secara auto atau manual. Auto berarti kamera yang menentukan sendiri daerah gambar yang menjadi jelas dan tajam, sedangkan manual berarti pengguna yang menentukannya.

Di lensa biasanya ada pengaturan mekanik,  AF = Auto Focus dan M = Manual Focus. Jika pengaturan disetel ke AF, maka ketika Anda menekan shutter setengah, lensa akan mulai bergerak sendiri mencari fokus.  Sebaliknya, jika disetel di M, maka pengguna harus memutar ring lensa untuk menentukan daerah fokusnya.

Auto Focus and Manual Focus di Lensa Kit Nikon 18-55mm

Auto Focus and Manual Focus di Lensa Kit Nikon 18-55mm

Pertanyaannya kenapa ada Auto Focus dan Manual Focus? Mengapa tidak cukup pakai auto focus saja?

Jawabannya, karena keduanya dibutuhkan.

Contoh:

1. Ada kalanya Auto Focus salah fokus

Misalnya Anda sedang ada di bonbin. Subyek monyet Anda berada jauh di balik kawat. Saat Anda menggunakan Auto Focus, kamera mungkin memutuskan, kawat lah yang harus ditajamkan sehingga gambar si monyet dan latar belakang jadi blur.

Padahal yang kita inginkan sebaliknya.  Di saat seperti inilah kita butuh Manual Fokus.

fokus pada subyek

2. Auto Focus kebingungan mencari fokus

Untuk kamera seperti Nikon D3300 pada situasi yang terlalu low light atau kurang cahaya, ia akan kesulitan untuk menentukan fokusnya, misalnya saat Anda ada di dalam gua. Anda dapat mendengar motornya bergerak-gerak tanpa henti. Di situasi semacam ini Manual Focus lebih cocok.

3. Auto Focus berguna ketika kita harus mengambil gambar dengan cepat

Ada situasi-situasi, di mana harus kita tangkap dengan cepat, misalnya:

  1. Anda ingin memotret orang di jalan. Kalau Anda berlama-lama membidik itu bisa menimbulkan perasaan kurang nyaman pada orang tesebut.
  2. Saat Anda mengambil foto di ajang olah raga dan Anda ingin menggunakan burst mode. Dengan burst mode, sekali tekan shutter bisa 5 atau lebih foto dijepret. Kalau subyek Anda bergerak cepat seperti, di balapan kuda atau di balapan mobil, saat kuda atau mobil bergerak menghampiri kita, kamera yang bagus dapat terus mengikuti gerakannya dan menjaga fokus secara auto. Tangan dan mata kita tidak mungkin bisa seperti itu.

Itulah 3 kegunaan Auto Focus dan Manual Focus, serta alasan mengapa kita membutuhkan kedua-duanya.

Baca juga:

Dasar-Dasar Fotografi: Shutter Speed, Aperture dan ISO

2 Juni, 2016 / by / in
Dasar-Dasar Fotografi: Shutter Speed, Aperture dan ISO

Dulu ketika saya benar-benar buta tentang kamera, kesannya benda itu hanya kaum dewa yang bisa mengoperasikannya. Apalagi kalau sudah urusan kamera DSLR, waa….

Juga kalau saya bertanya ke orang, susah rasanya untuk mendapatkan jawaban yang lugas. Bahkan untuk hal sesederhana seperti pengaturan fokus kamera, seolah diperlukan skill luar biasa untuk agar hasil tangkapannya bisa fokus. Padahal sih tinggal putar ring lensa saja atau pakai saja fitur auto focus.

Setelah lebih paham, ternyata untuk awal, Anda cukup tahu 3 hal saja, yaitu shutter speed, aperture dan ISO. Dengan modal ini Anda sudah bisa turun ke lapangan dan mulai menimba pengalaman.

motret kodok

Shutter speed

Nah, bro dan sis, pada lensa ada suatu mekanisme buka tutup yang disebut diafragma. Diafragma membuka saat Anda menekan tombol jepret kamera. Ketika sedang terbuka, cahaya masuk ke dalam kamera dan mulai terbentuk gambar. Ada dua hal yang berkaitan dengan bukaan diafragma tersebut, yaitu:

  1. Seberapa besar
  2. Berapa lama
Diafragma

Diafragma kamera

Shutter speed berkaitan dengan berapa lama diafragma membuka, dalam hitungan detik. Semakin lama terbuka, semakin banyak cahaya yang masuk.

Dalam tempat yang gelap, seperti indoor, biasanya diafragma dibuka lama, agar cukup banyak cahaya yang masuk sehingga foto terlihat terang. Sebaliknya kalau di tempat yang terang, seperti di outdoor dengan sinar matahari yang banyak, umumnya hanya perlu sepersekian detik bukanya. Kalau kelamaan nanti jadi keputihan fotonya atau overexposure.

Aperture

Ini berkaitan dengan seberapa besar bukaan diafragma. Semakin besar bukaanya, berarti semakin banyak cahaya yang masuk.

Aperture ditandai dengan huruf ‘f’, seperti:

  1. f1,8
  2. f2
  3. f22
  4. dst

Semakin kecil angkanya, berarti semakin besar bukaannya.

Aperture selain berpegaruh pada jumlah cahaya yang masuk, juga berpengaruh pada efek ngeblur. Istilah dalam dunia fotografi disebut efek ‘bokeh’. Biasanya orang gunakan ini untuk membuat latar belakang objek menjadi kabur agar  objek menjadi pusat perhatian.

panasonic fz100 blur backgroundMeskipun ada beberapa faktor yang menyumbang terciptaknya efek ini, aperture adalah salah satunya.

ISO

Ini berkaitan dengan tingkat sensitifitas sensor makin tinggi angkanya, makin sensi sensornya, maka makin terang fotonya.

Kalau cahaya sudah terang, sementara ISOnya terlalu tinggi akan menyebabkan gambar menjadi keputihan atau overexpose.

Masalahnya, efek dari ISO yang tinggi adalah timbulnya noise atau bintik-bintik pada gambar. Semakin bagus kameranya, toleransi ISOnya semakin tinggi sebelum timbul noise.

Penutup

Nah, bagaimana tidak sulit kan. Kalau sudah tahu 3 dasar ini, Anda hanya perlu mengenal kamera yang Anda gunakan. Bagaimana mengatur settigan shutter speed, aperture, dan ISO di kamera itu. Sebab masing-masin pabrikan desainnya agak berbeda satu sama lain.

Kalau Anda masih menggunakan kamera poket atau HP (kecuali yang mahalan), biasanya semuanya serba auto dan tidak bisa diubah secara manual.

Pertanyaan

Kalau shutter speed, aperture dan ISO berpengaruh pada terang dan gelap foto. Mengapa harus ada ketiganya. Bukankah semuanya berfungsi sama?

 

16 Mei, 2016 / by / in