Mengapa Kertas Bisa Jadi Alat Pembayaran? Ini Alasannya

posted in: Uang | 2

Faktanya adalah lembaran uang di dompet Anda terbuat dari kertas. Tetapi mengapa kertas yang satu itu bisa untuk membeli handphone? Sedangkan kertas di buku tulis Anda, tidak?

Asal usul nilai uang kertas

Zaman dulu sekali, orang saling tukar barang untuk memenuhi kebutuhannya, misal: A punya apel, B punya pisang. A mau pisang, B mau apel, maka mereka bisa barter. Masalahnya sistem barter memiliki banyak kelemahan.
Salah satunya:

Kalau harta si A berupa 1 ekor kebo, maka kebonya harus dikasih makan, dan suatu saat kebonya bisa mati. Selain itu kalau kebonya mau ditukar dengan 1 ekor ayam bagaimana? Tentu kebo lebih bernilai dari ayam.

Seiring waktu orang menemukan, bahwa logam lebih nyaman digunakan untuk barter, misalnya saja paku. Ukurannya kecil, mudah dibawa, mudah dibagi dalam satuan yang lebih kecil, dan tahan lama. Meskipun tetap merepotkan dalam jumlah banyak. Akhirnya logam lain seperti perunggu, emas, perak pun menjadi alat tukar yang populer.

Ketika muncul sistem bank, emas, perunggu, perak itu bisa disimpan di bank. Ketika orang menyimpan logamnya di bank, bank mengeluarkan kertas sertifikat yang menyatakan, bahwa mereka hutang senilai logam yang disimpan. Kertas sertifikat (bank note)  itulah yang saat ini kita sebut uang.  Kertas tersebut bisa digunakan untuk belanja. Karena nilainya dianggap sama dengan logam yang tersimpan di bank. Nantinya siapapun yang memegang kertas sertifikat itu dapat menukarnya dengan logam yang ada di bank, sesuai dengan besaran yang dinyatakan oleh kertas itu.

Kalau Anda periksa uang Amerika yang lama, terdapat pernyataan yang berbunyi, bahwa uang itu dapat menebus perak senilai 5 dolar. Namun demikian zaman sekarang sudah tidak bisa lagi.

Silver Certificate. This certifies that there is on deposit in the treasury of the United States of America five dollars in silver payable to the bearer on demand.

Sekarang Anda tahu bahwa nilai kertas yang disebut uang, disokong oleh nilai logam yang disimpan di bank. Seiring perkembangan zaman, negara-negara menggunakan cadangan emas, perak atau keduanya untuk menentukan nilai mata uangnya. Nilai cadangan ini terbagi ke dalam banyaknya uang yang beredar di masyarakat.

Apabila pemerintah mencetak terus-menerus tanpa henti, maka 1 lembar uang akan semakin turun nilainya. Artinya bila uang Rp. 50.000 sekarang bisa beli beras 4 kg. Apabila nilainya turun, Rp.50.000 mungkin hanya sanggup beli beras 3kg. Nominalnya sama, tapi kekuataan belinya berkurang.

Ketika nilai uang mengalami penurunan inilah yang disebut dengan inflasi.

Tahukah Anda, mengapa pemerintah di tiap negara menjaga agar inflasi tetap terjadi dalam level tertentu?

Jawabnya: Agar orang akan membelanjakan uangnya. Karena orang tidak mau menyimpan sesuatu yang nilainya terus menurun. Efeknya roda ekonomi berputar, perusahaan produknya ada yang beli, bisa bayar gaji karyawan atau membuka lapangan kerja baru.

Apabila yang terjadi deflasi, dimana nilai uang meningkat, maka orang akan menahan uangnya, tidak mau belanja. Efeknya produk pedagang tidak laku, tidak bisa bayar gaji, dan bisa terjadi PHK dimana-mana.

Inilah alasan mereka yang mengerti uang dan uangnya banyak, kalau mau simpan harta, bentuknya tidak berupa uang. Mereka memilih misalnya barang berbentuk tanah, emas, dan lain-lain. Karena kedua benda ini cenderung nilainya naik.

Mengapa tidak semua hartanya diubah jadi tanah atau emas saja? Coba Anda bayangkan bayar pulsa dengan batangan emas atau bayar makanan di restoran dengan tanah. Bisa?

Inflasi jugalah alasan penyebab pedagang menaikkan harga barang tiap tahun.

Penutup

Nilai uang Anda ditopang oleh logam beharga yang disimpan oleh negara. Meskipun demikian sebagian negara kini tidak lagi menggunakan logam untuk menopang nilai mata uang mereka, melainkan hanya dengan kebijakan pemerintah, atau dikenal dengan dengan uang FIAT.

2 Responses

  1. Nino Artikel

    Wah baru tahu saya kalau asal usul uang sebagai alat tukar awalnya adalah kertas sertifikat atau bank note.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.